Pendidikan di Indonesia; Antara harapan dan realita!

Sudah me njadi hak bahwa tiap manusia berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, bahwa tiap warga negara pendapat pendidikan adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah karena itu adalah amanat dari undang – undang. Pemerintahpun sudah berusaha memberikan yang terbaik dalam pembenahan di lingkungan pendidikan, anggaran amanat dari undang – undang yang mengharuskan 20% dari APBN adalah harus dianggarkan untuk pendidikan mulai tahun kemarinpun sudah didingungkan. pendidikan dan kesehatan gratispun menjadi topik utama tiap pilkada yang terjadi di setiap daerah. wajib belajar 9 tahun sampai pada jenjang sekolah menengah pertama selalu menjadi materi tiap calon pemimpin tiap daerah. dengan iming – iming sekolah yang murah bahkan cenderung gratis selalu di elu – elukan untuk meninabobokan mereka – mereka yang tidak tahu lagi harus melangkah. sekolah gratis bak sebuah hujan yang datang dari langit kala kemarau sedang melanda negeri. sekolah gratis bak menjadi asa dari sebagaian kaum terpinggirkan untuk bisa sedikit bermimpi tentang masa depan, sekolah gratis seakan menjadi titik terang bagi mereka kaum gelandangan, kaum pengemis, kaum pengamen, kaum buruh tani, kaum kuli panggul dan kaum melarat untuk dapat berharap bahwa kelak anak mereka tidak akan hidup seperti apa yang telah mereka lalui.

Tapi coba kita lihat realita yang ada saat ini, pada saat PPD ( Penerimaan Peserta Didik) , apa yang dapat kita saksikan? untuk masuk sekolah yang berkualitas seseorang harus merogoh saku sedemikian dalam. Sejumlah uang jutaan rupiah melayang sekejap hanya untuk masuk di suatu kelas tertentu yang notabenenya adalah sekolah negeri. uang yang dimulai dari 2 juta – 30 juta ditawarkan agar bisa masuk menjadi anggota siswa di sekolah tertentu. sejumlah cara penerimaanpun beragam, mulai dari jalur reguler sampai dengan jalur khusus yang tidak diketahui bagaimana mekanismenya. berbagai macam proyekpun  muncul pada saat penerimaan peserta didik berlangsung. yang ujung – ujungnya bermuara ke yang namanya uang.

terus dimanakah sekolah gratis yang dijanjikan pemerintah? dimanakah janji – janji para pemimpin daerah kala mereka berjanji pada rakyat. suatu ironi: sekolah katanya gratis tetapi mereka anak – anak kaum gelandangan, kaum pengemis, kaum pengamen, kaum buruh tani, kaum kuli panggul dan kaum melarat hanya bisa melihat dari jalanan dan hanya bisa menghayal seandainya aku bisa memakai pakaian seragam. apa memang selamanya bahwa ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH!!!

3 Tanggapan

  1. gurune tetep kere ya….???????

  2. Mang bener,pemimpin cm bsa jnji,jnji dan janji tp hsle tetep saja nihil?klo saja qt pnya pemimpin yang bijak pemimpin yg memikirkan rkyat kecil pztnya tdk ad lg rakyat mskin akan pendidikan?buat orang2 yang krang mampu dan ptz sklh jgn menyrah?o.k

  3. yang penting tetap mengabdi mas mencerdaskan anak bangsa

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.